(Artikel 2/3) Babi Haram, Puasa Sebulan Penuh: Mengapa Islam Begitu Unik di Mata Jepang?
Jawaban Kocak dan Mencengangkan dari Pertanyaan Khas Orang Jepang!
(Artikel ini merupakan artikel kedua dari tiga artikel yang memaparkan pengalaman Parastuti sensei, seorang dosen di Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jepang UNESA selama tinggal di Jepang. Selamat menikmati.....)
Lalu, ada lagi pertanyaan yang kadang bikin kita senyum tipis, "Di sini Jepang, bukan negaramu! Kenapa tetap tidak makan babi dan tetap berpuasa? Mintalah pada Tuhanmu, pasti Dia mengizinkan!" (ここは日本だよ!トゥティさんの国じゃない、豚肉を食べないの?断食をするの?神様に許してもらえば、。。。). Mereka bahkan mengutip peribahasa populer mereka: "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" atau dalam bahasa Jepang, 郷に入っては、郷に従え. Respon saya sih selalu sama: "Karena Tuhan saya hanya satu, jadi di mana pun kita hidup, tidak ada bedanya." Begitu pula soal arah kiblat sholat yang ke Barat, mereka berkomentar, "Ooo, jadi untuk pemersatu ya!" (西向き?なるほど!統一の印だね。). Betul sekali, Ka’bah di Mekkah memang menjadi simbol persatuan, jadi sholat bisa dilakukan di mana saja, bahkan di taman kuil Buddha atau Shinto sekalipun.
Rasa penasaran mereka juga muncul saat saya bekerja sambilan di supermarket. Mereka bertanya, "Berkunjung ke kuil, dan menyentuh makanan berbahan dasar daging babi, itu bolehkah?" (神社、お寺を行くのは大丈夫?豚肉と触っちゃう、大丈夫なの?). Saya jelaskan, memindahkan atau menata barang itu bagian dari pekerjaan, yang tidak boleh adalah memakannya. Cara berpikir orang Jepang yang sangat pragmatis memang butuh bukti konkret, sesuatu yang bisa dilihat, diraba, dan didengar. Makanya, menjelaskan hal-hal spiritual seringkali harus dikaitkan dengan hal-hal yang mereka pahami dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, saat mereka bertanya tentang sholat lima kali sehari atau puasa sebulan penuh, "Mengapa harus begitu? Bukankah Tuhan Maha Pengasih, pasti mengizinkan?" (神様に許してもらえば、。。。). Saya mencoba menjelaskan bahwa ini adalah cara kita untuk "refresh" diri, seperti mereka yang butuh liburan atau hobi untuk menyegarkan pikiran. Islam mengajarkan kita untuk me-refresh diri melalui sholat dan puasa, agar hati dan jiwa selalu terhubung dan jadi lebih sabar.