Lima Kunci Harmonis Berinteraksi dengan Orang Jepang
Berinteraksi dengan orang dari latar budaya yang berbeda sering kali membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bahasa. Dalam konteks Jepang, kunci terpentingnya adalah keharmonisan—sebuah nilai universal yang juga dikenal di berbagai bangsa, tetapi memiliki ekspresi khas dalam bahasa dan perilaku masyarakat Jepang.
Bagi mahasiswa, pendidik, maupun masyarakat umum yang tertarik menjalin relasi dengan Jepang—baik di dunia pendidikan, seni budaya, kegiatan fisik bersama, hingga ruang-ruang inklusif yang melibatkan beragam kemampuan—memahami cara berinteraksi secara harmonis menjadi bekal yang sangat berharga. Berikut ini adalah lima kunci penting untuk membuka “gembok” interaksi dengan orang Jepang.
1. Menyadari Perbedaan Diri dan Orang Lain
自己と他者の区別を認職する
(jibun to tasha no kubetsu o ninshiki suru)
Langkah awal menjaga keharmonisan adalah kesadaran bahwa setiap individu itu berbeda. Dalam berkomunikasi, kita perlu memahami bahwa cara berpikir, latar belakang, dan pengalaman kita tidak selalu sama dengan orang lain. Kesadaran ini membantu kita untuk tidak menuntut secara berlebihan atau membandingkan diri sendiri dengan pihak lain.
Menariknya, menurut penulis, justru poin ini yang paling menantang bagi masyarakat Jepang. Budaya keseragaman yang kuat—misalnya dalam sistem pendidikan dan fasilitas publik—membuat perbedaan sering kali terasa asing. Karena itu, ketika kita mampu menghargai perbedaan, termasuk perbedaan kondisi fisik, gaya belajar, atau cara berekspresi, interaksi akan menjadi lebih manusiawi.
2. Mengakui Kebenaran Pihak Lain
相手にも五分の理を認める
(aite ni mo gobu no ri o mitomeru)
Keharmonisan tidak lahir dari merasa paling benar. Dengan mengakui bahwa pihak lain juga memiliki alasan dan sudut pandang yang patut dihargai, kita belajar melihat kekurangan diri sekaligus kelebihan orang lain. Sikap ini sangat penting dalam kerja tim, diskusi akademik, maupun kolaborasi lintas budaya—termasuk saat bekerja sama dalam kegiatan kreatif atau aktivitas yang menuntut kerja sama fisik dan mental.
3. Menghargai Lawan Bicara
相手を重視する
(aite o juushi suru)
Menghargai orang lain berarti memberi perhatian penuh, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan menjaga tutur kata. Dalam budaya Jepang, penghargaan ini menjadi fondasi kualitas komunikasi. Sikap saling menghormati akan membuat interaksi terasa aman dan setara, bahkan ketika latar belakang kemampuan, peran, atau pengalaman setiap orang berbeda.
4. Menempatkan Diri pada Posisi Orang Lain
相手の立場に身に置く
(aite no tachiba ni mi o oku)
Empati adalah inti keharmonisan. Dengan mencoba melihat dari sudut pandang lawan bicara, kita lebih mudah memahami situasi yang dihadapi orang lain. Cara pandang ini membantu kita melakukan introspeksi diri, memperbaiki sikap, dan menyadari hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatian. Dalam lingkungan pendidikan dan sosial, empati inilah yang membuat ruang interaksi menjadi lebih inklusif dan beradab.
5. Memahami Ungkapan Perasaan dalam Bahasa Jepang
日常の五心
(nichijō no itsutsu no kokoro)
Selain sikap, orang Jepang juga sangat memperhatikan ungkapan perasaan hati dalam komunikasi sehari-hari. Lima ungkapan berikut mencerminkan nilai batin yang dijunjung tinggi:
「はい」という素直な心 “Hai” (soujiki na kokoro): Ungkapan ketulusan dan kesiapan menerima, mirip dengan “baik” atau “siap” dalam bahasa Indonesia.
「すみません」という反省な心 “Sumimasen” (hansei na kokoro): Tidak hanya berarti “maaf”, tetapi juga ungkapan refleksi diri dan bahkan rasa terima kasih, karena menerima sesuatu dianggap sebagai beban tanggung jawab.
「おかげさまで」という謙虚な心 “Okage sama de” (kenkyo na kokoro): Ungkapan kerendahan hati, “berkat Anda semua”, yang menempatkan keberhasilan bukan semata hasil usaha pribadi.
私がします」という奉仕の心 “Watashi ga shimasu” (hōshi no kokoro): Pernyataan kesiapan melayani dan bertanggung jawab, bukan sekadar menawarkan bantuan.
「ありがとうございます」という感謝の心 “Arigatō gozaimasu” (kansha no kokoro): Ucapan terima kasih yang sarat makna, karena menerima kebaikan berarti siap menanggung kewajiban untuk membalasnya secara sepadan.
Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya soal kata, tetapi juga tentang beban moral, tanggung jawab, dan seni menjaga perasaan orang lain.
Menutup dengan Refleksi
Pada dasarnya, semua panduan ini mengajak kita untuk belajar merendahkan hati, mengenali diri sendiri, dan menghormati orang lain. Dari situlah keharmonisan tumbuh secara alami. Menariknya, jika kita bercermin pada kehidupan di Indonesia yang kaya akan perbedaan budaya, seni, kebiasaan sosial, hingga keberagaman manusia, sebenarnya kita telah lama berlatih hidup harmonis.
Memahami cara orang Jepang menjaga keharmonisan bukan untuk mengubah jati diri kita, melainkan untuk memperkaya sudut pandang. Dengan begitu, interaksi lintas budaya—di ruang kelas, panggung seni, lapangan aktivitas bersama, maupun kehidupan sehari-hari—dapat terjalin dengan lebih hangat, setara, dan bermakna.
(Narasumber tulisan: Parastuti)