(Artikel 3/3) Islam di Jepang: Dari Haji hingga Status Wanita, Semua Ada Penjelasannya!
Menguak Tabir Keyakinan di Tengah Budaya yang Berbeda, Penuh Toleransi dan Pemahaman.
(Artikel ini merupakan artikel terakhir dari tiga artikel yang memaparkan pengalaman Parastuti sensei, seorang dosen di Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jepang UNESA selama tinggal di Jepang. Selamat menikmati.....)
Rasa penasaran orang Jepang terhadap Islam itu bener-bener nggak ada habisnya, lho! Bahkan sampai ke pertanyaan, "Masih muda, kenapa mesti melakukan ritual keagamaan seperti haji?" (まだ若い!なぜ巡礼をするつもりなの?). Ini karena mereka punya spirit 我慢強い (gaman-zuyoi), alias sabar dan tekun, yang menganggap masa produktif harus diisi dengan kerja keras. Urusan agama? Nanti saja kalau sudah tua dan punya banyak waktu luang. Saya pernah melihat rombongan ziarah di Kuil Kiyomizudera yang hampir semuanya berusia di atas 60 tahun, seolah menguatkan pandangan mereka ini.
Lalu, soal minuman keras. Bagi mereka, 日本酒 (nihonshu) atau sake adalah minuman suci, simbol hasil panen melimpah, dan selalu ada dalam setiap perayaan 乾杯 (kanpai) atau toast. Jadi, ketika kita menolak minum alkohol, mereka sangat menghormati dan langsung sigap menyediakan minuman lain. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan pandangan, ada ruang toleransi yang besar untuk saling menghargai.
Pertanyaan lain yang menarik adalah soal wudhu. "Ooo, perlu bersihkan tangan, muka, kumur-kumur juga ya sebelum sholat? Mirip kalau orang Jepang mau masuk KuilShinto!" (手・顔・口を洗うの?神社のお参りと一緒だね。). Komentar ini menunjukkan bahwa prinsip membersihkan diri sebelum berkomunikasi dengan Tuhan itu universal. Intinya, kita ingin memisahkan diri dari urusan duniawi dan masuk ke ranah spiritual.Tapi, penting juga nih buat kita untuk menjaga kebersihan tempat wudhu agar tidak meninggalkan kesan jorok.
Tak kalah penting, ada kekhawatiran soal status perempuan. Seorang teman Jepang pernah berkata, "Saya tidak mau bersuamikan orang Islam, karena mereka akan menikah lebih dari satu kali dan perempuan itu kedudukannya rendah karena memakai baju tertutup." (好きなインドネシア男性がいるけど、「一夫多妻」について、心配なの。熱くない?自由に動けない。). Saya jelaskan, justru Islam menjunjung tinggi perempuan, dan laki-laki yang paham tidak akan sembarangan berpoligami. Pakaian tertutup adalah bentuk perlindungan, keamanan, dan identitas. Meskipun alasan identitas ini kadang sulit mereka pahami karena mereka tidak terbiasa tampil berbeda.
Terakhir,pertanyaan yang cukup filosofis: "Bagaimana sikap orang Indonesia terhadap agama yang tidak mengajarkan Keesaan Tuhan?" (ヒンドゥー教は神様が多い、イスラム教の神様は一つだけ。インドネシア人にとって「神様」ってどんな感覚なの?). Ini muncul dari orang Jepang yang pernah tinggal lama di Bali. Mereka bertanya,"Apakah Tuhan orang Bali dan Tuhan orang Jawa tidak bentrok?" Saya mencoba menjelaskan bahwa mengakui keberadaan Tuhan, meskipun dengan keyakinan berbeda, adalah bekal utama untuk hidup saling menghargai. Dan pesan penutup yang selalu saya sampaikan, "Kalau Anda semua mau memahami, bahwa yang melakukan bom bunuh diri itu bukan orang Islam yang sesungguhnya, itu sudahcukup bagi saya." (自爆テロをやった人はイスラムの人じゃない ). Karena pada dasarnya, agama itu untuk perdamaian, bukan perseteruan. Semua ritual dan ajaran ini adalah ujian dari Tuhan agar kita menjadi manusia yang lebih berkualitas.